Dampak Konsumsi Makanan dan Minuman Manis bagi Kesehatan
Postingan oleh.
SMP ALMIRA
di kategori
News
pada
Makanan dan minuman manis merupakan jenis konsumsi yang sangat populer di berbagai kalangan, terutama anak-anak dan remaja. Rasanya yang lezat dan mudah ditemukan menjadikannya pilihan favorit sehari-hari. Namun, di balik rasa manis tersebut, terdapat berbagai risiko kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius.
Konsumsi gula tambahan secara berlebihan dapat berdampak negatif bagi tubuh, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Makanan dan minuman manis umumnya tinggi kalori namun rendah nilai gizi. Jika dikonsumsi berlebihan, asupan kalori dapat melebihi kebutuhan harian sehingga memicu kenaikan berat badan dan obesitas.
Obesitas merupakan faktor risiko berbagai penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit jantung. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi minuman manis secara rutin dapat meningkatkan risiko obesitas hingga 60% pada orang dewasa.
Konsumsi gula tambahan yang tinggi, terutama dari minuman manis, dapat menyebabkan resistensi insulin. Kondisi ini memaksa pankreas bekerja lebih keras untuk mengontrol kadar gula darah, yang dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi diabetes tipe 2.
Sebuah studi menunjukkan bahwa konsumsi satu atau lebih minuman manis per hari dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 hingga 26%, bahkan tanpa faktor obesitas.
Gula menjadi sumber makanan bagi bakteri di dalam mulut. Bakteri tersebut menghasilkan asam yang merusak enamel gigi dan menyebabkan gigi berlubang serta radang gusi.
Untuk menjaga kesehatan gigi, World Health Organization (WHO) merekomendasikan agar konsumsi gula harian dibatasi kurang dari 10% dari total asupan kalori.
Asupan gula tambahan yang tinggi berkaitan dengan peningkatan kadar trigliserida dan kolesterol LDL (kolesterol jahat), yang merupakan faktor risiko utama penyakit jantung.
Penelitian menunjukkan bahwa individu yang mengonsumsi 17–21% kalori harian dari gula tambahan memiliki risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular 38% lebih tinggi dibandingkan mereka yang mengonsumsi gula dalam jumlah lebih rendah.
Makanan manis dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah secara cepat, diikuti penurunan drastis. Kondisi ini dapat memicu kelelahan, iritabilitas, serta kesulitan berkonsentrasi.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa pola makan tinggi gula berpotensi memengaruhi fungsi otak dan meningkatkan risiko gangguan suasana hati.
Konsumsi gula memicu pelepasan dopamin yang berkaitan dengan rasa senang. Efek ini dapat menimbulkan kebiasaan konsumsi berulang dan kesulitan mengurangi asupan gula.
Makanan manis sering kali menggantikan konsumsi makanan bergizi seperti sayur, buah, dan sumber protein sehat. Kebiasaan ini dapat menyebabkan kekurangan vitamin dan mineral penting bagi tubuh.
Meskipun makanan dan minuman manis terasa lezat, konsumsinya perlu dibatasi untuk menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh. Mengurangi gula tambahan merupakan langkah sederhana namun berdampak besar dalam mencegah berbagai penyakit dan meningkatkan kualitas hidup.
Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membentuk pola hidup yang lebih sehat dan seimbang.