Pengaruh kosumsi minuman/makanan manis berlebih
Postingan oleh.
SMP ALMIRA
di kategori
News
pada
Konsumsi makanan dan minuman manis merupakan kebiasaan yang sangat umum dalam kehidupan masyarakat modern. Produk seperti permen, cokelat, kue, minuman bersoda, teh manis, hingga berbagai minuman kemasan lainnya semakin mudah dijangkau dan sering dianggap sebagai pilihan cepat untuk menghilangkan haus maupun meningkatkan energi. Namun, meskipun memberikan rasa manis yang memuaskan, konsumsi gula dalam jumlah berlebihan dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan. Pengaruhnya tidak hanya terlihat dalam jangka pendek, tetapi juga berkontribusi besar terhadap munculnya penyakit kronis. Oleh karena itu, penting untuk memahami pengaruh konsumsi makanan dan minuman manis berlebih secara lebih mendalam.
Salah satu pengaruh utama konsumsi gula berlebihan adalah meningkatnya risiko obesitas. Menurut pedoman WHO, gula tambahan merupakan sumber kalori tinggi yang tidak disertai kandungan nutrisi penting. Ketika makanan dan minuman manis dikonsumsi secara terus-menerus, tubuh menerima kalori berlebih yang kemudian disimpan dalam bentuk lemak. Minuman manis, seperti soda atau teh manis, memberikan dampak lebih cepat karena gula di dalamnya langsung diserap tanpa memberikan rasa kenyang, sehingga seseorang cenderung mengonsumsi lebih banyak. Proses inilah yang menjadikan gula sebagai salah satu penyebab utama peningkatan berat badan dan obesitas pada berbagai kelompok usia.
Selain obesitas, konsumsi makanan dan minuman manis berlebih berdampak buruk pada kesehatan gigi. Gula yang tertinggal di permukaan gigi akan dimanfaatkan oleh bakteri dalam mulut untuk memproduksi asam. Asam ini kemudian merusak enamel gigi secara perlahan. Jika kondisi ini berlangsung lama, kerusakan gigi seperti karies hingga gigi berlubang akan lebih mudah terjadi. Anak-anak merupakan kelompok yang paling berisiko, karena sering mengonsumsi makanan manis namun belum mampu menjaga kebersihan gigi dengan optimal.
Dampak serius lainnya adalah meningkatnya risiko diabetes tipe 2. Ketika seseorang mengonsumsi gula dalam jumlah besar, kadar glukosa darah meningkat secara tiba-tiba. Tubuh kemudian harus memproduksi lebih banyak insulin untuk mengolah glukosa tersebut. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, tubuh dapat mengalami resistensi insulin, yaitu keadaan ketika sel-sel tubuh tidak lagi merespons insulin dengan baik. Resistensi insulin inilah yang menjadi faktor utama munculnya diabetes tipe 2. WHO menegaskan bahwa konsumsi gula berlebih secara terus-menerus merupakan salah satu faktor risiko penting dalam berkembangnya penyakit ini.
Selain itu, konsumsi gula yang tinggi juga berdampak pada kesehatan jantung. Gula tambahan dapat meningkatkan kadar trigliserida, yaitu lemak dalam darah yang berhubungan erat dengan penyakit jantung. Gula juga dapat meningkatkan tekanan darah dan menyebabkan peradangan dalam tubuh. Peradangan yang terjadi secara berkepanjangan menjadi salah satu penyebab terjadinya kerusakan pembuluh darah yang dapat memicu hipertensi, stroke, dan penyakit jantung koroner. Dengan kata lain, konsumsi gula berlebih tidak hanya memengaruhi berat badan, tetapi juga menimbulkan risiko serius terhadap sistem kardiovaskular.
Konsumsi gula berlebih juga memiliki dampak terhadap kesehatan mental. Walaupun makanan manis dapat memberikan rasa senang sesaat, lonjakan gula darah yang cepat diikuti penurunan drastis dapat menyebabkan perubahan suasana hati, rasa lelah, kecemasan, dan sulit konsentrasi. Kondisi ini, jika berlangsung lama, dapat memengaruhi keseimbangan hormon serta fungsi otak yang berhubungan dengan pengaturan emosi.
Di samping dampak-dampak tersebut, konsumsi makanan manis berlebih dapat mengganggu pola makan sehat. Produk manis cenderung menggantikan makanan bergizi karena lebih mudah dikonsumsi dan memberikan rasa kenyang sementara. Akibatnya, tubuh kekurangan vitamin, mineral, dan serat yang sebenarnya sangat penting bagi kesehatan.
Secara keseluruhan, konsumsi makanan dan minuman manis berlebih memberikan pengaruh negatif yang luas terhadap kesehatan. Mulai dari obesitas, kerusakan gigi, diabetes, penyakit jantung, hingga gangguan kesehatan mental dapat terjadi akibat pola makan tinggi gula. WHO (2015) merekomendasikan agar konsumsi gula tambahan dibatasi hingga kurang dari 10% dari total energi harian, dan idealnya kurang dari 5% untuk manfaat kesehatan yang lebih optimal. Pembatasan ini menjadi langkah penting dalam menjaga tubuh tetap sehat, terutama di era modern yang serba praktis dan penuh godaan makanan manis.
Sumber:World Health Organization. (2015)
Peringkas:abyasa Ihsan