Artikel

Postingan oleh tim SMP ALMIRA

pengaruh game online terhadap waktu belajar dan interaksi sosial siswa

Card image cap
pengaruh game online terhadap waktu belajar dan interaksi sosial siswa

Postingan oleh. SMP ALMIRA di kategori News pada

27 November, 2025 | 10:03:13

Pengaruh game online terhadap waktu belajar dan interaksi sosial siswa merupakan topik yang semakin relevan di era digital saat ini. Banyak siswa menghabiskan waktu luang mereka untuk bermain game online, baik sebagai hiburan maupun sebagai sarana berkompetisi. Namun, kebiasaan ini membawa pengaruh besar terhadap pola belajar serta cara siswa berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Pengaruh tersebut bisa bersifat positif maupun negatif, bergantung pada bagaimana game digunakan dan seberapa baik siswa mengatur waktu.

Dari sisi waktu belajar, game online sering menjadi penyebab utama siswa kehilangan fokus. Banyak game menggunakan sistem level, misi harian, dan hadiah tertentu yang membuat pemain ingin terus bermain. Ketika siswa terlalu asyik, mereka cenderung menunda mengerjakan tugas atau belajar untuk ulangan. Hal ini membuat hasil belajar menurun karena persiapan yang kurang dan konsentrasi yang tidak maksimal. Selain itu, bermain hingga larut malam menyebabkan kurang tidur, sehingga siswa merasa mengantuk saat pelajaran berlangsung. Dampaknya, daya tangkap dan pemahaman terhadap materi pelajaran pun ikut menurun.

Meski begitu, game online tidak selalu memberi dampak buruk pada waktu belajar. Jika dimainkan dengan bijak, game dapat menjadi sarana hiburan yang membantu mengurangi stres setelah belajar. Siswa yang mampu mengatur jadwal biasanya menentukan waktu belajar terlebih dahulu sebelum bermain. Dengan cara ini, game menjadi motivasi setelah belajar selesai, bukan pengganggu. Beberapa game juga mengajarkan strategi dan pemikiran kritis yang secara tidak langsung dapat mendukung kemampuan akademik tertentu.

Dari segi interaksi sosial, game online mempunyai dua sisi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, banyak game yang menyediakan fitur kerja sama tim, sehingga siswa bisa belajar berkomunikasi, bekerja sama, dan menyusun strategi bersama teman atau pemain lain. Pengalaman ini bisa memperluas pertemanan, bahkan dengan orang dari daerah berbeda. Bagi siswa yang pemalu, interaksi dalam game kadang membantu mereka lebih percaya diri untuk berkomunikasi.

Namun, di sisi lain, bermain game terlalu sering dapat mengurangi interaksi sosial secara langsung. Siswa mungkin lebih memilih bermain sendirian dengan ponsel daripada berkumpul bersama keluarga atau teman. Akibatnya, kemampuan komunikasi tatap muka bisa menurun. Kebiasaan ini juga membuat siswa kurang peka terhadap lingkungan sekitar. Dalam beberapa kasus, konflik sosial muncul karena pertengkaran di dalam game yang terbawa ke kehidupan nyata, terutama jika lawan bermain adalah teman sekelas.

Selain itu, penggunaan game online yang berlebihan dapat memengaruhi sikap siswa. Beberapa siswa menjadi mudah marah atau emosional ketika kalah. Ada juga yang merasa gelisah jika tidak bisa bermain, sehingga mengganggu aktivitas lain. Jika tidak dikendalikan, hal ini dapat memengaruhi kesehatan mental dan fisik, misalnya kelelahan, malas bergerak, atau kurang tidur. Dampak-dampak tersebut tentu berpengaruh terhadap proses belajar maupun hubungan sosial.

Selain itu, penting bagi sekolah dan orang tua untuk bekerja sama dalam memberikan pemahaman mengenai penggunaan teknologi secara sehat. Lingkungan sekolah dapat membuat aturan yang mendorong penggunaan gadget secara lebih terkontrol, seperti menyediakan kegiatan ekstrakurikuler yang menarik sehingga siswa tidak selalu menghabiskan waktu dengan game. Orang tua juga berperan besar dengan memberikan batasan waktu, mengawasi jenis game yang dimainkan, serta memastikan anak tetap menjalankan kewajiban belajar. Dengan dukungan dari berbagai pihak, siswa dapat belajar mengatur prioritas dan membuat keputusan yang lebih baik dalam penggunaan waktu. Pendekatan ini tidak hanya membantu mengurangi dampak negatif game, tetapi juga membentuk kebiasaan digital yang sehat untuk jangka panjang.

Dengan demikian, keseimbangan aktivitas menjadi semakin penting bagi siswa.

Kembali