Pengaruh Game Online terhadap Waktu Belajar dan Interaksi Sosial Siswa
Postingan oleh.
SMP ALMIRA
di kategori
News
pada
Perkembangan teknologi telah membuat game online menjadi bagian dari kehidupan banyak siswa. Di satu sisi, game menyediakan hiburan, tantangan kognitif, dan ruang sosial baru; di sisi lain, penggunaan yang berlebihan berpotensi mengurangi waktu belajar dan mengubah pola interaksi sosial siswa. Artikel singkat ini membahas bagaimana game online memengaruhi durasi belajar dan hubungan sosial siswa serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan.
Dampak pada waktu belajar umumnya terlihat pada pengurangan waktu yang dialokasikan untuk tugas sekolah, latihan, dan pembelajaran mandiri. Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang menghabiskan waktu bermain lebih lama — terutama >30 jam per minggu — cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih rendah, nilai yang menurun, dan pengurangan waktu tidur yang pada gilirannya mengurangi efektivitas belajar. Pola ini tampak konsisten pada studi internasional dan beberapa penelitian di Indonesia.
Selain kuantitas waktu, kualitas belajar juga bisa terganggu. Bermain pada jam malam atau terus-menerus menunda pekerjaan akademik menciptakan kondisi lelah dan sulit berkonsentrasi saat jam sekolah berikutnya. Gangguan tidur (insomnia ringan hingga gangguan ritme tidur) yang disebabkan oleh bermain larut malam juga dilaporkan berkaitan dengan penurunan motivasi dan kemampuan kognitif sehari-hari.
Di sisi interaksi sosial, pengaruh game online bersifat ambivalen. Banyak game online modern (MMO, game tim kompetitif) justru menyediakan ruang sosial bagi pemain untuk berkomunikasi, bekerja sama, dan membangun persahabatan — terutama bagi siswa yang pemalu atau sulit bersosialisasi secara langsung. Bagi sebagian anak, game menjadi medium latihan keterampilan sosial dalam konteks virtual. Namun, ketika permainan menjadi dominan, interaksi tatap muka dapat berkurang, menyebabkan isolasi sosial atau penurunan keterampilan komunikasi antarpribadi.
Risiko kecanduan juga penting diperhatikan. WHO mengakui gaming disorder sebagai pola perilaku yang bermasalah ketika prioritas bermain menggeser aktivitas penting lain (sekolah, hubungan keluarga) dan menyebabkan konsekuensi negatif yang berkelanjutan. Identifikasi dini — seperti kehilangan kontrol, peningkatan waktu bermain meski merugikan, dan gangguan fungsi sosial/akademik — membantu guru dan orang tua mengambil tindakan cepat.
Langkah pencegahan praktis meliputi: pembatasan waktu layar yang konsisten, pengaturan jadwal belajar dan istirahat, pendidikan literasi digital bagi siswa tentang penggunaan sehat, serta komunikasi rutin antara sekolah dan orang tua. Di sekolah, guru bisa mengintegrasikan aktivitas ekstra-kurikuler yang menggantikan waktu bermain berlebihan dan mengajarkan manajemen waktu; sementara orang tua perlu mengawasi waktu bermain dan memastikan tidur cukup. Beberapa penelitian lokal juga menekankan perlunya program edukasi untuk menurunkan risiko kecanduan dan menjaga prestasi akademik.
Kesimpulannya, game online bukan sekadar ancaman atau solusi tunggal: efeknya bergantung pada durasi, jenis permainan, konteks sosial, dan pengawasan lingkungan. Dengan kebijakan waktu yang bijak, pendidikan literasi digital, dan keterlibatan orang dewasa, dampak negatif pada waktu belajar dan interaksi sosial siswa dapat diminimalkan, sementara manfaat sosial-kognitif yang positif tetap dimanfaatkan.
Sumber:
1. Mahmud S., Online gaming and its effect on academic performance of ... (PMC).
2. World Health Organization — Gaming disorder / ICD-11 (WHO).
3. Studi Universitas Negeri Semarang / penelitian lokal tentang dampak game online dan prestasi akademik (UNNES).
4. Kowert R., The Relationship Between Online Video Game ... (analisis sosial dan manfaat interaksi game).
5. Penelitian/tesis lokal tentang pengaruh game online dan perubahan pola tidur/perilaku (STKIP Pacitan / repositori lokal).
Artikel Ini Dirangkum Oleh:Abizar Alghifari Ramdhan