Dampak Sampah plastik terhadap lingkungan sekolah
Postingan oleh.
SMP ALMIRA
di kategori
News
pada
lingkungan sekolah merupakan tempat penting bagi proses pendidikan dan pembentukan karakter siswa. Namun, banyak sekolah masih menghadapi masalah serius terkait sampah plastik. Mulai dari botol minum sekali pakai, kemasan makanan, hingga sedotan dan kantong plastik, semua itu menjadi sumber sampah harian yang sulit terurai. Karena aktivitas siswa berlangsung setiap hari, jumlah sampah plastik di sekolah dapat meningkat cepat jika tidak dikelola dengan baik. Hal ini bukan hanya mencemari lingkungan, tetapi juga memengaruhi kesehatan dan perilaku siswa dalam jangka panjang.
Salah satu dampak utama dari sampah plastik di lingkungan sekolah adalah pencemaran area belajar. Plastik yang berserakan membuat halaman sekolah dan ruang kelas terlihat kotor dan tidak nyaman. Kondisi ini dapat menurunkan kualitas lingkungan belajar, menyebabkan siswa kurang fokus, dan bahkan mengurangi kebiasaan disiplin terhadap kebersihan. Menurut National Geographic, plastik dapat bertahan di lingkungan selama ratusan tahun dan terus menumpuk jika tidak dikelola atau dikurangi penggunaannya. Hal ini menunjukkan bahwa sampah plastik di sekolah bukan sekadar masalah kecil, melainkan ancaman jangka panjang bagi lingkungan pendidikan.
Selain itu, sampah plastik juga dapat menjadi tempat berkembang biak bakteri dan serangga. Plastik bekas makanan yang tidak dibuang dengan benar bisa menarik lalat, semut, bahkan tikus. Ini tentu membahayakan kesehatan siswa dan guru. Ketika plastik menumpuk di sudut-sudut sekolah, risiko penyakit seperti diare dan infeksi meningkat.plastik yang bercampur dengan sisa makanan dapat mengeluarkan zat kimia berbahaya saat terkena panas, sehingga memengaruhi kualitas udara sekitar. Di sekolah, situasi ini dapat memperburuk kenyamanan dan kesehatan seluruh warga sekolah.
Dampak lain yang tidak kalah penting adalah pencemaran tanah dan air di sekitar sekolah. Banyak sekolah yang belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang baik, sehingga plastik sering dibakar atau ditimbun. Pembakaran plastik menghasilkan asap beracun seperti dioksin dan furan, yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan meningkatkan risiko kanker. Sementara itu, plastik yang dibuang sembarangan dapat terbawa air hujan ke selokan atau kebun sekolah.plastik yang terurai menjadi mikroplastik bisa mencemari tanah dan air, lalu masuk ke tumbuhan dan organisme kecil lain di lingkungan sekitar.
Jika sekolah terletak di dekat sungai atau saluran air, sampah plastik dapat menyumbat aliran air. Akibatnya, sekolah dapat mengalami banjir saat musim hujan. Hal ini tidak hanya mengganggu jalannya kegiatan belajar, tetapi juga menimbulkan biaya tambahan untuk perbaikan fasilitas sekolah. Dengan kata lain, sampah plastik di lingkungan sekolah berdampak pada aspek ekonomi, kesehatan, dan kenyamanan.
Namun, dampak terbesar sampah plastik di sekolah sebenarnya adalah dampak terhadap perilaku dan karakter siswa. Ketika siswa terbiasa melihat sekolah yang kotor, mereka akan menganggap sampah plastik sebagai hal yang wajar. Sebaliknya, jika sekolah mampu mengelola sampah plastik dengan baik, siswa akan belajar tentang tanggung jawab, kedisiplinan, dan pentingnya menjaga lingkungan. Banyak penelitian menyebutkan bahwa pendidikan lingkungan sejak dini sangat berpengaruh pada perilaku anak saat dewasa.
Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, sekolah dapat melakukan beberapa langkah. Pertama, menerapkan program pengurangan plastik sekali pakai, seperti melarang penggunaan botol plastik dan menggantinya dengan botol minum isi ulang. Kedua, menyediakan lebih banyak tempat sampah terpisah antara organik, plastik, dan kertas. Ketiga, melaksanakan kegiatan rutin seperti “Jumat Bersih” atau lomba kelas terbersih. Selain itu, sekolah dapat bekerja sama dengan bank sampah atau komunitas lingkungan untuk mengolah plastik menjadi produk daur ulang yang bermanfaat.
Dengan melibatkan seluruh warga sekolah—guru, siswa, dan orang tua—masalah sampah plastik dapat ditekan secara signifikan. Sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga contoh nyata bagaimana menjaga lingkungan dimulai dari kebiasaan kecil setiap hari.
sumber: nationalgeographic.com
banyannation.com, climeco.com