Dampak Penggunaan Internet Berlebihan terhadap Konsentrasi Siswa
Postingan oleh.
SMP ALMIRA
di kategori
News
pada
Di era digital, internet sangat bahaya bagai pisau bermata dua bagi pelajar. Di satu sisi, ia menawarkan lautan informasi dan alat belajar yang tak terbatas. Namun, adapula di sisi lain, penggunaan yang berlebihan justru menggerogoti fondasi paling dasar dari proses belajar: yaitu konsentrasi.
Godaan untuk membuka medsos, menonton video singkat, atau bermain game online seringkali lebih kuat daripada keinginan untuk belajar atau menyelesaikan tugas. Akibatnya, kemampuan untuk fokus dalam jangka panjang menjadi korban utama. Jadi, apa saja dampak nyata dari kebiasaan menggunakan internet berlebihan terhadap konsentrasi siswa?
1. Gangguan Konstan dan Multitasking yang Menipu
Lingkungan digital dirancang untuk menarik perhatian. Setiap notifikasi, bunyi, atau pembaruan feed medsos adalah gangguan yang memecah konsentrasi. Siswa yang terbiasa dengan hal ini sering melakukan multitasking—mengerjakan tugas sambil membalas chat dan menelusuri Instagram.
Faktanya, otak manusia tidak efisien dalam melakukan banyak tugas secara bersamaan. Yang terjadi malah "pengalihan perhatian" yang cepat. Setiap kali beralih fokus, otak membutuhkan waktu beberapa menit untuk kembali berkonsentrasi penuh pada pelajaran. Proses ini menguras energi mental, membuat belajar terasa lebih melelahkan, dan pemahaman materi menjadi dangkal.
2. Melemahnya Kemampuan Membaca Mendalam
Internet mendorong budaya skimming—membaca cepat untuk mencari inti informasi. Kebiasaan ini melatih otak untuk lebih suka pada hal-hal yang instan, singkat, dan menghibur. Akibatnya, ketika dihadapkan pada buku teks atau materi pelajaran yang kompleks dan membutuhkan ketahanan membaca, siswa mudah merasa bosan dan tidak sabar. Kemampuan untuk menganalisis teks panjang dan memahami argumen yang rumit pun terkikis.
3. Kecanduan dan Gangguan Pola Tidur
Penggunaan internet yang berlebihan, terutama di malam hari, dapat memicu gejala mirip kecanduan. Cahaya biru dari layar gawai menekan produksi melatonin, hormon pengatur tidur. Siswa yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar sebelum tidur akan kesulitan terlelap dan kualitas tidurnya menurun.
Padahal, tidur yang cukup adalah termasuk proses penting untuk memindahkan memori jangka pendek menjadi memori jangka panjang. Kurang tidur menyebabkan siswa mengantuk di kelas, sulit fokus, dan daya ingat menurun.
4. Penurunan Kapasitas Memori
Mengapa harus mengingat jika semua informasi bisa dicari dalam sekejap? Internet telah menjadi "memori eksternal" bagi banyak siswa. Kebiasaan mengandalkan Google untuk mengingat segala hal dapat melemahkan "otot" memori otak. Proses mengingat dan menghafal, yang merupakan bagian kunci dari pembelajaran, menjadi terabaikan. Akibatnya, siswa kesulitan menyimpan informasi dasar yang diperlukan untuk membangun pemahaman yang lebih kompleks.
5. Meningkatnya Kecemasan dan Penurunan Motivasi
Algoritma media sosial dan platform digital seringkali menciptakan "perbandingan sosial" yang tidak sehat. Siswa terus-menerus melihat sorotan keberhasilan dan kehidupan menyenangkan orang lain, yang dapat memicu kecemasan dan perasaan tidak mampu. Selain itu, dunia online juga penuh dengan stimulasi tinggi membuat pelajaran di kelas terasa membosankan. Otak yang terbiasa dengan dopamine rush dari likes dan notifikasi, akan kesulitan menemukan motivasi intrinsik untuk tugas-tugas yang membutuhkan usaha dan kesabaran.
Lalu, Apa Solusinya?
Menjauhkan diri dari internet sepenuhnya bukanlah solusi yang realistis. Yang diperlukan adalah penggunaan yang bijak dan sadar:
· Teknik Manajemen Waktu: Terapkan metode seperti Pomodoro Technique (belajar 25 menit, istirahat 5 menit).
· Zona Bebas Gangguan: Matikan notifikasi dan letakkan ponsel di luar jangkauan saat belajar atau di kelas.
· Jadwal Tidur Digital: Hentikan penggunaan gadget minimal satu jam sebelum tidur.
· Aktivitas Penyeimbang: Luangkan waktu untuk olahraga, membaca buku fisik, atau hobi offline untuk mengistirahatkan otak dari stimulasi digital.
Kesimpulan
Internet adalah alat yang hebat, tapi ia harus menjadi pelayan, bukan majikan. Penggunaan yang berlebihan secara signifikan mengikis kemampuan konsentrasi, yang merupakan pilar kesuksesan akademis.
---